Hujan...
Aku merasa akhir-akhir ini selalu ada kamu yang menjadi tokoh utama cerita hidupku. Kamu, yang datangnya entah sejak kapan, entah aku yang terlalu perasa atau malah aku yang tidak peka.
Hujan...
Salahkah jika aku merasa bersalah? Aku merasa bersalah, karena aku merasa akulah yang memulai semuanya. Aku bahkan tak tahu pasti apakah itu aku... atau kamu yang memulai. Sampai tibalah kita di titik ini. Titik samar yang masing-masing dari kita pun masih ragu untuk memperjelasnya.
Hujan...
Salahkah jika aku menangis? Menangis karena aku teringat Allah yang sebenar-benarnya beserta kita, Allah yang sebenar-benarnya mengatur skenario hidup kita, Allah yang sebenar-benarnya akan memberikan yang terbaik untuk kehidupan hamba-Nya. Aku percaya dan selalu percaya.
Hujan...
Apakah aku datang disaat yang tepat? Atau... apakah kamu datang disaat yang tepat? Aku tidak mau hanya datang sebagai pengganggu. Aku tidak tahu apakah kamu suka hadirku atau justru sebaliknya. Sungguh sampai saat ini pun aku masih mengira akulah yang terlalu perasa. Tapi aku begitu egois, aku ingin beranggapan bahwa kamu juga membalas rasa.
Hujan...
Maafkan aku yang tak tahu malu. Aku ingin menjadi orang yang selalu mendapati cerita hari-harimu. Aku ingin menjadi orang yang bisa menjaga apa yang sudah kamu percayakan padaku. Aku ingin menjadi orang yang tidak hanya datang sebagai pengganggu. Dan mungkin aku pun ingin menjadi orang yang tak berbatas waktu bersamamu.
Jangan pergi hanya karena musim hujan ini nanti berakhir. Jangan pergi karena aku tak berharap ceritanya berhenti. Meski memang kita sama-sama tidak tahu skenario apa yang telah Allah tetapkan, tentang paragraf baru seperti apa yang menjadi kelanjutan. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik. :)
La takhaf wa la tahzan innAllaha ma'ana.
Jangan takut dan jangan bersedih hati, sesungguhnya Allah senantiasa bersama kita.
Semangat\></